Baca Klasik

Sastra Klasik itu Asyik!

Frankenstein – Mary Shelley

* Judul Buku : Frankenstein
* Penulis : Mary Shelley
* Penerjemah : Anton Adiwiyoto
* Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
* Cetakan : III, November 2009 (edisi yang diperbaharui)
* Ukuran : 320 hlm; 20 cm
* Rating : 5 stars out of 5

Manusia adalah makhluk berakal, yang dengan akalnya mampu mencari dan mereguk ilmu pengetahuan yang tak ada habis-habisnya di dunia ini. Namun apa jadinya apabila manusia, terhanyut dalam kekayaan dan keagungan ilmu pengetahuan yang tiada berbatas itu, lantas berusaha mencari tahu misteri terbesar alam: bagaimana caranya menghidupkan benda mati? Bagaimana jadinya kalau manusia berusaha menyamai Tuhan—menciptakan makhluk hidup—namun tanpa memikirkan lebih dulu akibat dan resikonya?

Well, dr. Victor Frankenstein dalam cerita ini mungkin awalnya nggak sampai berambisi menyamai Tuhan, tapi dia jelas tergoda kedalaman sumur ilmu pengetahuan. Ketika setelah pembelajaran dan penelitian dalam bidang ilmu alam yang ditekuninya selama beberapa tahun akhirnya membuahkan hasil luar biasa, membawanya pada pengetahuan tentang cara menghidupkan makhluk tak bernyawa, Frankenstein terobsesi untuk menciptakan manusia buatannya sendiri. Mulailah ia bekerja, dari jasad-jasad orang mati dibentuknya makhluk setinggi dua setengah meter yang kemudian diberinya kehidupan. Berbulan-bulan ia bekerja keras nyaris tanpa memedulikan dirinya sendiri. Tapi apa yang kemudian terjadi? Frankenstein justru ketakutan setengah mati duluan pada rupa buruk makhluk itu. Kengeriannya membuatnya jatuh sakit, sedangkan makhluk ciptaannya menghilang entah kemana. Frankenstein nggak berusaha mencarinya. Yang ia inginkan adalah berusaha melupakan makhluk ciptaannya dan kembali ke tempat asalnya, Jenewa di Swiss, kepada ayah dan saudara-saudari yang dicintainya.

Tapi kemudian adik laki-lakinya ditemukan tewas terbunuh, dan pelayan perempuan di rumahnya yang dituduh sebagai pelakunya. Padahal semua anggota keluarga Frankenstein yakin benar gadis itu nggak mungkin membunuh. Bagaimana kalau ternyata, sesuai kecurigaan Victor, monster buruk rupa ciptaannya-lah yang ternyata telah membunuh sang adik? Bagaimana kalau monster itu kemudian menuntut Victor melakukan pekerjaan mengerikan yang sama sekali lagi—menciptakan monster—atau nyawa semua orang-orang yang disayangi Victor akan jadi taruhannya?

Tapi bagaimana kalau monster itu melakukannya karena jauh di lubuk hati terdalamnya ia begitu menderita, kesepian dan sakit hati akibat penolakan manusia terhadapnya?

Ini kisah yang kelam? Iya. Buat perbandingan, sebelumnya gue udah pernah baca Dracula-nya Bram Stoker dan Dr. Jekyll and Mr. Hyde-nya Robert L. Stevenson, yang sama-sama bisa dikategoriin horor-klasik. Frankenstein ini menurut gue punya beberapa kelebihan, baik dari segi orisinalitas cerita, kekuatan tokoh dan tentunya muatan moralnya. Dracula punya plot yang lebih menyeramkan, tapi Dracula sendiri adalah sosok yang mewakili kejahatan murni, jadi nggak ada alasan buat pembaca jatuh simpatik sama dia. Dr. Jekyll dan Mr. Hyde punya pesan moral yang mirip-mirip sama Frankenstein—salah satunya soal penggunaan ilmu pengetahuan harus dengan bijaksana dan hati-hati—tapi antagonis di cerita itu, Mr. Hyde, juga wakil kejahatan murni, jadi pembaca pun akan sepakat kalau memang udah selayaknya dia dibinasakan.

Lain halnya dengan Frankenstein. Sinopsis gue di atas mungkin mengesankan seolah monster ciptaan Frankensetein sama jahatnya dengan Dracula maupun Mr. Hyde, dan Victor adalah tokoh yang patut dikasihani pembaca karena nasib malangnya dikejar-kejar monster ciptaannya sendiri. Nah—salah. Fisik monster ciptaan Frankenstein memang dikisahkan luar biasa menyeramkan dan buruk rupa, karena diciptakan dari gabungan potongan jasad manusia yang udah mati, tapi ketika dihidupkan, naluri perasaannya semurni dan sepolos bayi yang baru lahir. Setelah melarikan diri dari rumah Frankenstein dan hidup di hutan, ia belajar memahami keadaan sekitarnya dan mengagumi keindahan alam sebesar kekaguman Victor sendiri. Ia belajar memahami manusia dengan mengamati satu keluarga miskin, diam-diam jatuh sayang pada keluarga itu bahkan kerap kali membantu mereka bekerja mencari kayu dihutan atau membersihkan kayu di musim dingin. Tapi dimanapun si monster berada, tiap kali dia menampakkan dirinya di hadapan manusia, mereka selalu ketakutan, menolak, menjauhi, membenci, menyakitinya.

Tokoh fiksi lain yang juga ngingetin gue sama monster ciptaannya Frankenstein adalah Beast dari Beauty and the Beast. Monster Frankenstein dan Beast agak mirip dari segi fisik yang sama-sama menyeramkan dan ditakuti manusia normal, membuat mereka sama-sama bisa bersikap ‘buas’ dan mengasingkan diri dari manusia. Persamaan lainnya, diam-diam mereka sebenarnya cuma butuh disayangi. Sedihnya, nasib Beast masih lebih baik dari monster Frankenstein, karena pada akhirnya ada Belle yang tulus menyayangi Beast apa adanya. Dalam cerita Frankenstein, sama sekali nggak ada manusia yang menaruh simpati bahkan sedikit pun bagi si mosnter. Nggak ada Belle buat dirinya. Maka nggak heran kalau akhirnya kebaikan hati si monster digantikan rasa sakit hati dan nafsu membalas dendam, terutama pada Victor. Penciptanya, ‘ayah’nya, yang seharusnya berperan membimbingnya memasuki dunia manusia, malah jadi yang pertama menolaknya, menjerumuskan si monster ke dunia yang boro-boro menyayangi dia, menginginkannya makhluk buruk rupa macam dia pun enggak.

Jadi, ya, dalam cerita ini gue malah jauh lebih bersimpati sama kompleksitas si monster. Sedangkan terhadap Frankenstein si ilmuwan, dalam banyak kesempatan gue justru sebal banget sama sifatnya yang lemah. Gampang banget ngeri sama sesuatu lalu jatuh sakit. Ambisinya muluk-muluk, tapi setelah tercapai dia malah lepas tanggung jawab terhadap hasil ciptaannya. Cuma karena rupa makhluk ciptaannya buruk lantas dengan gampangnya Frankenstein berpasangka bahwa jiwa mahkluk itupun sehitam iblis. Sama sekali nggak kepikiran bahwa makhluk ciptaannya sebenernya jauh, jauuh lebih menderita daripada dirinya sendiri—sekali lagi, bayangkan jadi seseorang yang dilahirkan ke dunia ini tanpa ada yang menginginkan dan mau menyayangi kamu? Siapa juga yang pelan-pelan nggak jadi gila? Andaikan Frankenstein dan makhluk ciptaannya setidaknya bisa saling memahami, peristiwa-peristiwa mengerikan dalam buku ini mungkin nggak perlu terjadi. Pada akhirnya juga, amarah dan dendam itu toh nggak akan membawa kemana-mana selain ke kepahitan penyesalan.

Dalam lingkup yang lebih luas, cerita ini mengingatkan kita sebagai manusia agar nggak asal menilai orang lain sebelum benar-benar mengenali pedalamannya. Don’t judge a book by its cover, don’t judge a person merely by his/her appearance, entah maksudnya itu kekurangan/cacat fisik, ras, agama, suku bangsa, apapun lah. Jangan ngerasa diri kita yang paling ‘sempurna’, karena tiap-tiap insan di alam semesta ini pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan tentu saja, pengingat agar kita selalu bertanggung jawab atas konsekuensi perbuatan kita.

However, meski gue pribadi sampai akhir condong berada di pihaknya si monster, dalam bukunya sendiri Mary Shelley menceritakan dari sudut pandang Frankenstein dan si monster dengan cukup fair kok. Di bagian si monster menuturkan kisahnya ke Frankenstein, dengan gampang gue terhanyut simpati sama si makhluk yang terbuang. Tapi sewaktu lagi dalam sudut pandang Victor Frankenstein, gue cukup memahami juga penyesalannya udah bikin makhluk yang begitu mengerikan, dan ketakutannya membayangkan kemungkinan akan menciptakan malapetaka yang lebih besar lagi bagi umat manusia.

Hal lain tentang Mary Shelley yang gue kagumi adalah beliau mulai menulis Frankenstein waktu usianya baru 18 tahun! Lebih muda dari gue sekarang dan berhasil nulis kisah yang bertahan lebih dari 200 tahun. Hebaat😮

Terakhir, sharing sedikit, waktu lagi baca buku ini entah kenapa gue sempat dilanda kejenuhan baca bacaan yang ‘berat’ melulu, lantas akhirnya nyari pelarian ke bacaan yang super light—Gossip Girl. Terus entah kebetulan, inevitability *halah* atau apa, di buku ketiga Gossip Girl, All I Want is Everything, gue menemukan bahwa tokoh Daniel Humphrey dalam ujian Inggrisnya juga lagi ngebahas Frankenstein. Pertanyaan di soalnya adalah: In class we have discussed the various symbolic meanings of Mary Shelley’s man-made, manlike creation, Frankenstein. But what does Frankenstein mean to you? Terus sebenernya gue terus suka perandaiannya si poetic Dan dalam buku itu:

He’d always thought Frankenstein was scary, but also very beautiful in a way. Frankenstein didn’t mean to harm anyone, but he couldn’t help it—he was a monster. In a way, he was like love itself: horrible and wonderful, terrifying and liberating, thrilling and sad, all at the same time.

Tsaaahh Danieel, hahaha. Tapi sadar-nggak-sadar awalnya, sebenarnya udah terjadi kesalahkaprahan yang umum banget di sini. Entah Cecily von Ziegesar (pengarangnya Gossip Girl series) sebenernya belum pernah baca sendiri Frankenstein, atau sekedar alpa atau enggan menjelaskan, tapi Frankenstein sebenarnya bukan nama si monster, melainkan nama si penciptanya, Victor Frankenstein, yang kemudian juga diambil jadi judul buku. Si monster aslinya nggak bernama, cuma dirujuk dengan berbagai julukan dalam buku—paling banyak ya itu, iblis, monster, dst yang jelek-jelek lainnya. Mungkin karena ketiadaan nama ini, dan mungkin dianggap terlalu ribet kalau harus selalu disebut Frankenstein’s monster atau yang semacamnya, jadi makhluk ciptaan Frankenstein sekarang malah lebih luas dikenal sebagai Frankenstein saja, mengambil alih nama penciptanya.

Oleh: Priska Nurina
Posting asli dari (r)esensi buku

Single Post Navigation

One thought on “Frankenstein – Mary Shelley

  1. Ping-balik: Poonten » Frankenstein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: