Baca Klasik

Sastra Klasik itu Asyik!

Pengumuman Pemenang Analisis The Wind in the Willows

Hola klasikers!

Hari ini kami mau mengumumkan pemenang Lomba Analisis The Wind in the Willows. Yang beruntung kali ini adalah……

Putri Utama

Link Notes FB: Analisis the Wind in The Willows

Begini isi note analisis tersebut:

***

#BacaBareng Maret 2012 yang diadakan oleh Blogger Buku Indonesia, salahsatunya bertema anak-anak. Dan pilhan saya jatuh pada The Winds in the Willows. Untuk lebih memahami jalan cerita, Komunitas Baca Klasik membuat beberapa pertanyaan yang dijawab melalui notes fb.

1. Dari antara 4 tokoh utama: Tikus Air, Tikus Tanah, Tuan Luak dan Tuan Katak, adakah menurut kalian yang mengalami perubahan dalam karakter atau pandangan hidup, karena persahabatan mereka? Kalau ada, sebutkan siapa (boleh lebih dari 1). Siapa yang telah mengubahnya? Bagaimana ia dulu? Bagaimana ia kini?
Hampir semua tokoh utama mengalami perubahan karakter atau pandangan hidup. Tikus Tanah yang pada awalnya pemalu, penakut dan sering merasa rendah diri, karena persahabatannya dengan Tikus Tanah, ia berubah menjadi pribadi yang lebih terbuka, pemberani dengan mengajak Ratty mencari Portly walau hari telah gelap dan cerdik dengan mampu mengelabui para rase dan cerpelai di Puri Katak. Katak yang pada awalnya angkuh, ceroboh, dan senang membanggakan diri, karena persahabatannya dengan semua tokoh dan petualangan menegangkan yang dialaminya, membuatnya menjadi pribadi yang rendah hati, dengan tidak memonopoli acara perjamuan di rumahnya, dermawan dengan mengirimkan seuntai kalung emas berliontin mutiara kepada anak perempuan sipir serta mengirimkan uang pada masinis kereta dan wanita pengemudi tongkang yang ia curi kudanya. Katak juga mendapatkan cara baru untuk menyalurkan keinginan untuk tampil di hadapan khalayak ramai dengan bernyanyi sendiri di kamarnya hingga puas.Sementara Tikus Air dan Luak juga mengalami perubahan meskipun tidak drastis seperti Tikus Tanah dan Katak. Tikus Air yang sepanjang hidupnya tinggal di tepi sungai dan kota di dekat sungai tersebut, baru mengetahui jika ada dunia di luar tepi sungai tercintanya. Ia baru mengetahuinya ketika bertemu dengan para satwa yang akan bermigrasi ke selatan. Bagi Luak, meskipun ia tidak begitu suka bergaul dan kurang memahami norma sopan santun di masyarakat namun bersahabat dengan Tikus Air, Tikus Tanah dan Katak telah membuat Luak sering keluar dari sarangnya berjalan-jalan bersama ketiga sahabatnya di Hutan Rimba pada malam-malam musim panas.

2. Setelah petualangan di ”Rumahku Istanaku” (hlm. 49), kesadaran apa yang didapat oleh Tikus Tanah?
Pada suatu ketika, saat kembali dari perjalanan panjang bersama Berang-Berang dan Tikus Air, Tikus Tanah menghidu bau rumah lamanya. Hal itu menyadarkannya bahwa rumah, walaupun tidak megah, tidak indah, dan tidak begitu nyaman, namun rumah adalah satu-satunya tempat yang akan selalu menerimanya. Rumah adalah satu-satunya tempat yang menjadi tempat untuk kembali setelah sekian waktu lelah berpetualang. Rumah adalah satu-satunya tempat yang tidak akan berubah meskipun kehidupannya berubah.

3. Menurut kalian apa yang sebenarnya dialami Tikus Tanah dan Tikus Air di “Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil” (hlm. 69) ?
Saat mencari Portly yang sudah berhari-hari tidak pulang, Tikus Tanah dan Tikus Air tiba di sebuah pulau kecil yang dipenuhi bunga-bunga tempat sesuatu yang agung berada sangat dekat dengan mereka. Mereka mengalami suatu pengalaman spiritual, bertemu dengan Sang Penguasa Kehidupan, yaitu Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil. Pengalaman spiritual tersebut tertuang dalam lirikBiarkan dirimu terpukau… Hingga yang riang menjadi resah…Kita memang bisa berjumpaSaat kecemasan menimpa…Setelah itu, ingat pun susah!Seperti menohok perasaan. Bukankah seringkali makhluk ciptaan-Nya hanya ingat mengadu pada-Nya ketika sedang dalam masalah. Namun ketika sedang bersuka cita, jangankan mengingat-Nya, mengucap syukur atas pemberian-Nya pun sulit bahkan tak ingat. Makhluk ciptaan-Nya menjadi lebih religius saat mendapat himpitan dalam hidupnya dan lupa pada-Nya ketika sudah mendapatkan keleluasaan dalam hidup.

4. Apa yang kalian dapatkan dari membaca The Wind in the Willows?
Fabel, selalu saja menyisipkan pelajaran disetiap lembar halamannya. Tak terkecuali buku ini. Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kesederhanaan cerita The Wind in the Willows ini, antara lain :
1. Pengertian dan perhatian terhadap sesama, yang ditunjukkan oleh Tikus Air.
2. Ada banyak sifat makhluk hidup di dunia ini, petuah bijak dari Luak.
3. Rumah bukanlah sekedar tempat berteduh namun ia adalah tempat setiap makhluk kembali dari perjalanan panjangnya, seperti yang dirasakan oleh Tikus Tanah.
4. Selalu berpikir panjang sebelum bertindak agar tak menyesal dikemudian hari, seperti yang dialami oleh Katak.
5. Makhluk hidup membutuhkan sesuatu kegiatan sebagai hobinya untuk dijadikan ajang relaksasi dari himpitan hidup, seperti yang dilakukan Tikus Air. Sahabat sejati adalah sahabat yang tetap selalu bersamamu disaat kau sedang bersedih hati, seperti yang ditunjukkan oleh empat sekawan ini.

Ya… itulah analisis saya atas buku klasik The Wind in the Willows, sebuah buku sederhana namun sarat makna tentang persahabatan.

***

Selamat untuk Putri, dan kami ucapkan terima kasih bagi semua peserta yang telah berpartisipasi dalam event Baca Klasik bulan Maret lalu. Tunggu event-event kami selanjutnya yang pasti lebih seru dan menarik!

Single Post Navigation

One thought on “Pengumuman Pemenang Analisis The Wind in the Willows

  1. selamat buat Putri….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: