Baca Klasik

Sastra Klasik itu Asyik!

Archive for the category “Artikel”

Bukan Sekadar Membaca

Wawancara Baca Klasik oleh Mbak Barokah Ruziati 🙂

bruziati

Sebagai pembaca, kita tentu memiliki genre favorit yang menjadi faktor penentu saat memilih buku. Sesekali kita juga membahas buku-buku tersebut dengan pembaca lain, lalu lanjut membaca buku berikutnya. Namun para pembaca ini  bukan sekadar membaca dan mengulas buku di akun pribadi. Mereka sengaja membuat akun khusus untuk mengekspresikan, bahkan kalau bisa menularkan kecintaan mereka terhadap genre favorit mereka. Yuliyono atau akrab disapa Ijul membuat akun twitter @fiksimetropop, akun facebookPembaca Novel Metropop dan blog Metropop Lover. Sementara Melisa Mariani dan Fanda, membuat akun twitter @bacaklasik, akun facebook Baca Klasik dan blog Baca Klasik. Dari nama akunnya sudah ketahuan dong, apa genre favorit mereka?

Lihat pos aslinya 1.668 kata lagi

Happy World Poetry Day! Tentang Aku dan Puisi :)

Surgabukuku

Hari Puisi Sedunia (World Poetry Day) oleh UNESCO ditetapkan untuk dirayakan setiap tanggal 21 Maret. Dari SMP sebenarnya saya sangat menyukai puisi, mulai dari penyair-penyair lokal seperti Chairil Anwar dan Rendra sampai Shakespeare, Wordsworth, dan kawan-kawan.

Pada akhirnya saya memang lebih menyenangi puisi-puisi berbahasa Inggris sih, termasuk puisi-puisi Shakespeare yang meskipun susah dimengerti, ketika dibaca (baik dalam hati maupun bersuara), sepertinya kok indaaaah… banget gitu 🙂

Ketika SMA saya membeli buku di bawah ini dengan merogoh kantong sendiri (waktu itu harganya 66 ribu, cukup terasa lah ya buat kantong seorang anak SMA) :D. Belinya dulu di Kinokuniya Sogo Dept. Store Tunjungan Plaza Surabaya (sekarang sudah nggak ada tobuknya T_T.)

Isinya puluhan puisi karya penyair-penyair terkenal, sebut saja T.S. Eliot, Lord Alfred Tennyson, W.B. Yeats, Christina Rossetti, dan tentu saja Opa Shakespeare. Beberapa penyair favorit saya adalah Sir Walter Ralegh, Percy Bysshe Shelley, William Butler Yeats, dan Robert Frost. Belakangan juga…

Lihat pos aslinya 489 kata lagi

[Opini] Mengapa Harus Sastra Klasik?

Di saat dunia perbukuan di seluruh dunia sedang dilanda serbuan novel-novel fantasi bertema paranormal, aku bertanya-tanya dalam hati mengapa orang begitu menggandrungi genre ini? Suatu hari ketika melewati bioskop XXI yang sedang dijejali manusia yang ingin menonton sekuel terakhir Harry Potter, aku dan papaku sempat mendiskusikan fenomena fiksi paranormal yang melanda kehidupan kita. Menurut analisa papaku, manusia sudah jenuh dengan kehidupan. Jenuh dengan dunia yang penuh kejahatan dan degradasi moral. Mereka butuh pelarian. Kemana? Agama? Mereka bahkan berpikir Tuhan sudah melupakan mereka. Maka mereka mencari dunia di luar dunia–a world beyond our world. Dunia paranormal menyajikan sesuatu yang tak dibatasi oleh keterbatasan manusia. Di situ mereka bisa menciptakan pahlawan mereka sendiri yang dapat mengatasi apapun, melawan apapun.

Yah, kupikir benar juga argumen papaku. Dan di kondisi seperti ini, bisa dipahami bahwa orang kurang–atau bahkan tak lagi–menggandrungi sastra klasik. Sederhana saja alasannya menurutku, karena kisah-kisah klasik menawarkan kenyataan hidup. Kalau kita sendiri sudah muak dengan hidup, buat apa lagi membaca kehidupan orang lain yang malah membuat kita makin depresi? Mungkin begitu pendapat kebanyakan orang. Mengapa tidak beralih saja ke genre fantasi atau humor yang bisa menghibur?

Aku tak setuju. Menurutku justru dalam kisah-kisah klasik lah kita akan banyak belajar nilai-nilai tentang kehidupan, yang dapat diaplikasikan ke dalam hidup kita sendiri. Mungkin kita bisa sejenak ‘berlibur’ ke dunia khayalan, seperti halnya kita bermimpi saat tidur, namun begitu terjaga kita mau tak mau kembali ke kehidupan nyata. Kisah-kisah klasik disebut atau dikategorikan sebagai “klasik” karena ia memiliki nilai-nilai yang dapat bermanfaat bagi manusia. Dan hal itu sudah teruji hingga bertahun-tahun, bahkan kadang ratusan tahun, sehingga kita tak mungkin dapat membantahnya.

Kisah klasik memang sudah usang. Namun meski kisah klasik bersetting di masa lalu, nilai yang dibawanya tetap relevan hingga jaman modern. Dan menurutku, justru di jaman modern, di mana nilai moral mengalami degradasi, kisah klasik menjadi sangat dibutuhkan. Bayangkan bagaimana jadinya bila generasi muda kita selalu dicekoki dengan konsep-konsep yang tidak nyata, ketika mereka kelak harus berhadapan dengan kenyataan hidup, akankah mereka siap menghadapinya? Kisah klasik akan membentuk moral mereka dengan lebih baik, memberi wawasan akan kehidupan nyata, meski lewat kisah-kisah fiktif.

Aku sudah banyak membaca macam-macam genre fiksi. Bahkan fiksi seperti harlequin atau komedi-humor pernah kubaca meski hanya sebagai selingan. Menurutku pribadi mereka memang menghibur, tapi (kebanyakan) kurang memiliki nilai-nilai yang bermanfaat. Setelah tamat, ya kuletakkan saja. Tanpa ada sesuatu yang dapat kurenungkan dan kupelajari. Berbeda dengan saat menekuni fiksi klasik, yang sering banyak mengajariku tentang kehidupan nyata, beragam kepribadian manusia, kesulitan mereka dan bagaimana mereka berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.

Tulisan ini kubuat untuk (ikut) menjawab sebuah pertanyaan yang muncul dalam sebuah blog hop. Aku pribadi tak ingin berpartisipasi dalam blog hop itu, hanya tergelitik untuk menjawab salah satu pertanyaannya yang menarik, yaitu:


Where do you think reading literature should rank in society’s priorities?

Di tingkat mana menurutmu, baca klasik seharusnya ditempatkan dalam prioritas masyarakat?

Maka jawabanku adalah: sastra atau literatur klasik sangat perlu digeluti oleh masyarakat dewasa ini. Kurangi waktu di depan televisi, terutama yang menayangkan hal-hal yang tak berguna. Perbanyaklah waktu untuk membaca buku (paling tidak membaca buku tidak hanya menghibur, tapi juga menambah wawasan kita), dan sisipkan buku-buku klasik ke dalam koleksimu. Bukan berarti aku mengesampingkan genre-genre lain. Aku sendiri telah berkomitmen membaca sedikitnya 20 buku klasik dalam setahun dari total target sekitar 60-70 buku, bagaimana dengan anda?

Mari baca klasik, sastra klasik itu asyik!

Oleh: Fanda (Copas dari sini)

Post Navigation